Warga Kota Bandung, Jawa Barat, diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi perkembangan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD). Terutama, situasi ini akan mulai terasa signifikan sejak Januari 2026, lanjut bulan-bulan berikutnya. Mengingat siklus penyakit ini, kewaspadaan harus tetap terjaga meskipun ada penurunan angka kasus dalam beberapa tahun terakhir.
Data menunjukkan bahwa dalam tiga tahun belakangan, prevalensi DBD mengalami penurunan signifikan. Menurut Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, tidak ada korban jiwa yang tercatat sepanjang tahun 2025, tetapi pola epidemi menunjukkan siklus yang memerlukan perhatian khusus dari masyarakat.
“Secara epidemiologis, DBD itu punya siklus. Jika selama tiga tahun berturut-turut kasus menurun, biasanya akan ada kenaikan kasus pada tiga tahun berikutnya,” kata Farhan saat acara Siskamling Siaga Bencana di Kelurahan Lebak Gede. Penting bagi masyarakat untuk menyadari bahwa potensi lonjakan kasus DBD sudah mengintai.
Mengapa Kewaspadaan Diperlukan dalam Menghadapi DBD?
Keberhasilan menurunkan angka kasus DBD tidak boleh membuat masyarakat terlena. Wali Kota Farhan menekankan bahwa kewaspadaan dini menjadi jaminan untuk mencegah lonjakan yang dapat mengancam kesehatan. Ketidakpedulian dalam menghadapi gejala awal dapat berakibat fatal.
Gejala awal demam DBD bisa jadi tidak terlihat jelas. Warga diimbau untuk lebih peka jika mengalami demam tinggi selama 24 jam yang tidak mereda meskipun telah mengonsumsi obat penurun panas. Segera periksa ke puskesmas merupakan langkah yang sangat disarankan agar tidak terlambat.
Farhan juga menyampaikan tanda-tanda bahaya lainnya seperti sakit kepala berat, nyeri sendi, kemunculan bintik merah di kulit, muntah, hingga mimisan. Keberadaan gejala-gejala tersebut bisa mengindikasikan adanya pendarahan dalam tubuh, yang tentu saja membutuhkan perhatian medis segera.
Pentingnya Deteksi Dini dan Pemantauan Kesehatan
Pemeriksaan dini melalui tes NS1 untuk mendeteksi DBD kini sudah tersedia secara gratis di berbagai puskesmas. Jika hasil tes menunjukkan positif dan pasien membutuhkan perawatan, dokter akan segera merujuk ke rumah sakit terdekat. Ini penting untuk mencegah kondisi pasien menjadi lebih parah.
Namun, jika pasien tidak membutuhkan rawat inap, mereka tetap harus dipantau secara ketat di rumah. Wali Kota Farhan menekankan pentingnya kondisi daya tahan tubuh dalam melawan virus ini, sehingga pemantauan dan perawatan yang tepat dapat membantu pemulihan yang lebih cepat.
Menjaga daya tahan tubuh adalah kunci utama dalam menghadapi ancaman DBD. Oleh karena itu, informasi mendetail mengenai tindakan pencegahan dan cara mendeteksi gejala dengan cepat sangat diperlukan oleh masyarakat agar tidak terjerumus pada situasi yang lebih berbahaya.
Risiko Penularan DBD di Kota Bandung
Farhan juga menyampaikan bahwa hasil pemantauan menunjukkan tidak ada kecamatan di Kota Bandung yang sepenuhnya bebas dari DBD. Risiko penularan tetap ada di seluruh wilayah kota, sehingga setiap warga harus berpartisipasi dalam menjaga kebersihan lingkungan dan kesehatan pribadi.
Komunitas dapat berperan aktif dalam mencegah DBD dengan mengadakan kegiatan bersih-bersih lingkungan. Selain itu, edukasi tentang pentingnya menjaga kebersihan dan cara-cara pencegahan penyakit harus menjadi prioritas untuk mengurangi risiko penularan.
Kolaborasi antara pemerintah, lembaga kesehatan, dan masyarakat sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang aman dari DBD. Dengan tindakan proaktif, diharapkan angka kasus dapat terus ditekan dan kesehatan masyarakat dapat terjaga dengan baik.
















