Dalam acara CHANDI 2025 yang diadakan di Bali, masyarakat internasional berkumpul untuk merayakan budaya dan seni dari berbagai belahan dunia. Salah satu sorotan utama acara ini adalah kehadiran Jana Abusalha, mahasiswi asal Palestina, yang berbagi suara dan pengalaman uniknya saat menempuh pendidikan di Indonesia.
CHANDI 2025 merupakan sebuah forum yang mendiskusikan berbagai tema penting, mulai dari warisan budaya, seni, hingga diplomasi internasional. Jana, yang mendapatkan beasiswa untuk belajar di Fakultas Kedokteran Universitas Pertahanan, tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga sebagai suara yang mewakili Palestina.
Melalui presentasinya, Jana berhasil menyampaikan betapa pentingnya budaya sebagai identitas. “Budaya adalah bahasa dari identitas,” ujarnya, menekankan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab untuk menggali dan mengenali akar budayanya. IA merasa bangga dapat membawa pesan ini ke forum internasional di Sanur, Denpasar.
Pesan yang disampaikan Jana dengan semangat mengajak generasi muda untuk menghargai dan merangkul budaya mereka masing-masing. Ia menjelaskan bahwa budaya tidak hanya tentang tradisi, tetapi juga bagaimana kita memahami siapa diri kita dan dari mana kita berasal.
Mengenal Budaya Sebagai Identitas Melalui Pendidikan dan Seni
Dalam forum ini, Jana menyampaikan harapan agar para pemuda di seluruh dunia dapat memahami pentingnya identitas budaya mereka. Ia percaya bahwa mengakui dan merangkul budaya dapat menjadi jalan menuju kedamaian dan saling pengertian di antara bangsa-bangsa.
“Setiap kali aku bepergian, akupun merasa perlu membawa sesuatu dari Palestina,” lanjutnya, mencerminkan bagaimana budaya dapat menjadi penghubung yang memperkuat jati diri. Pendekatan ini juga membuka pintu bagi dialog antarbudaya yang lebih mendalam.
Jana menegaskan bahwa generasi muda adalah agen perubahan yang sangat berpengaruh. Dengan mengedepankan budaya dalam pendidikan dan aktivitas sehari-hari, mereka dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan harmonis.
Melalui seni dan budaya, terutama dalam konteks pendidikan, individu dapat lebih memahami perbedaan dan keunikan yang dimiliki oleh setiap bangsa. Hal ini penting untuk membangun kesadaran dan toleransi di kalangan generasi muda.
Jana juga mengingatkan peserta forum tentang betapa pentingnya menginspirasi dan mendidik generasi mendatang tentang nilai dan makna budaya. Sebagai seorang mahasiswa, ia merasakan tanggung jawab moral untuk menjembatani pemahaman antara budaya Palestina dan Indonesia.
Membangun Jembatan Melalui Dialog Antarbudaya Internasional
Melalui CHANDI 2025, banyak pemuda dari berbagai negara berkumpul untuk saling bertukar pandangan dan pengalaman terkait identitas budaya. Forum ini menjadi saksi bagaimana dialog antarbudaya dapat mengurangi prasangka dan membangun solidaritas di antara komunitas internasional.
“Kita semua hidup dalam dunia yang terhubung, dan budaya adalah salah satu cara untuk saling mengerti,” ungkap Jana. Ia menekankan bahwa melalui pemahaman yang lebih baik tentang budaya lain, kita dapat menjadi lebih empatik dan saling menghormati.
Jana merasa terinspirasi oleh keberadaan peserta lainnya yang juga berbagi cerita tentang budaya mereka masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun kita berasal dari latar belakang yang berbeda, kita memiliki kesamaan dalam menghargai warisan budaya.
Oleh karena itu, masyarakat perlu berkolaborasi dan membangun jembatan antarbatas dengan cara saling menghormati keberagaman. Forum seperti CHANDI dapat berfungsi sebagai platform untuk meningkatan kesadaran dan pemahaman antarbudaya di dunia.
Jana juga mengajak semua yang hadir di forum tersebut untuk meneruskan pesan ini di komunitas mereka masing-masing. Dengan cara ini, harapannya adalah bisa menginspirasi lebih banyak orang untuk menyebarluaskan cinta terhadap budaya.
Pesan Kendati Dalam Tantangan: Budaya Sebagai Kekuatan Penyatu
Pentingnya budaya bukan hanya sebagai simbol identitas, tetapi juga sebagai alat untuk menyatukan masyarakat dalam situasi sulit. Jana menjelaskan bahwa saat ini Palestina menghadapi tantangan besar, dan budaya menjadi salah satu cara untuk tetap berdiri teguh dalam menghadapi berbagai rintangan.
“Selama berabad-abad, budaya kami telah menjadi sumber kekuatan. Itu mengingatkan kita tentang siapa kami,” jelasnya dengan penuh semangat. Pesan ini memberikan harapan bukan hanya bagi rakyat Palestina, tetapi juga bagi seluruh dunia.
Bukan hanya kata-kata, tetapi juga seni dan tradisi yang diwakili oleh generasi muda menjadi penanda betapa pentingnya untuk terus melestarikan dan meneruskan budaya. Melalui kepedulian dan tindakan nyata, akan ada harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Melalui dialog dan kolaborasi yang terbangun dalam forum ini, diharapkan akan muncul proyek-proyek yang mendorong pemuda untuk terlibat dalam penguatan kultur di komunitas mereka. Setiap langkah kecil dapat membawa perubahan yang signifikan di tingkat global.
Akhir kata, Jana Abusalha dan peserta lainnya meninggalkan forum dengan semangat baru, siap untuk memperjuangkan budaya mereka, dan menjadi duta bagi nilai-nilai kemanusiaan di seluruh dunia. Inilah inti dari semua inisiatif kebudayaan, yaitu persatuan dalam keragaman.
















