Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia mengungkapkan potensi besar dari proyek gas Lapangan Abadi yang berada di Blok Masela, Maluku. Dengan investasi mencapai sekitar US$ 20,94 miliar atau sekitar Rp 342,56 triliun, proyek ini diharapkan dapat menyerap lebih dari 12.000 tenaga kerja selama fase pengembangan dan sekitar 850 orang ketika mulai beroperasi.
Dengan ditargetkan keputusan investasi final (Final Investment Decision/FID) akan ditandatangani pada awal 2026, proyek ini direncanakan mulai beroperasi pada tahun 2029. Melalui berbagai upaya tersebut, pemerintah berharap manfaat dari proyek ini dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat sekitar.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menjelaskan bahwa proyek ini memiliki efek ganda yang besar bagi lingkungan sekitar. Salah satu teknologi yang akan diterapkan adalah Carbon Capture Storage (CCS), yang bertujuan untuk mendukung keberlanjutan dan prinsip good governance dalam pengelolaan sumber daya alam.
Peran Proyek dalam Meningkatkan Lapangan Kerja dan Perekonomian Lokal
Proyek gas Lapangan Abadi diperkirakan akan memberikan dampak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja. Selama fase konstruksi, upaya ini diharapkan mampu menarik setidaknya 12.611 pekerja, yang membantu mengurangi angka pengangguran di daerah tersebut.
Tanpa diragukan lagi, proyek ini tidak hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi juga memperkuat perekonomian lokal yang tergantung pada industri energi. Dengan adanya proyek ini, masyarakat setempat diharapkan dapat mengakses peluang ekonomi baru dan meningkatkan standar hidup mereka.
Yuliot juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan swasta dalam mempercepat proses pengadaan dan perizinan. Dukungan ini akan memastikan bahwa proyek dapat berjalan sesuai rencana dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
Inovasi dan Teknologi yang Digunakan dalam Proyek Gas Lapangan Abadi
Penggunaan teknologi CCS menjadi salah satu inovasi penting dalam proyek ini. Dengan teknologi ini, pengeluaran karbon yang dihasilkan saat proses produksi gas dapat diminimalkan, mendukung upaya Indonesia dalam mencapai target emisi net zero.
Penerapan teknologi canggih juga bertujuan untuk memperbaiki efisiensi operasional dan keselamatan dalam pengelolaan proyek. Hal ini menjadi langkah penting untuk memastikan kelangsungan proyek dalam jangka panjang serta keberlanjutan lingkungan.
Inpex Corporation selaku pengelola proyek menjelaskan bahwa pengoptimalan desain dan pengurangan risiko teknis menjadi fokus utama dalam fase awal proyek. Seluruh proses ini bertujuan untuk meningkatkan kepastian biaya dan jadwal sehingga mampu menarik lebih banyak investor.
Sejarah dan Perkembangan Proyek Gas Lapangan Abadi di Blok Masela
Blok Masela telah lama menjadi perhatian, dengan sejarah pengembangan yang dimulai sejak penandatanganan kontrak bagi hasil pada tahun 1998. Penemuan cadangan gas besar terjadi pada tahun 2000, dan sejak saat itu, berbagai rencana pengembangan disusun.
Setelah hampir dua dekade, pemerintah akhirnya memberikan persetujuan terhadap Rencana Pengembangan pertama (PoD-I) pada tahun 2019, yang menandai langkah maju bagi proyek ini untuk memproduksi gas dan energi terbarukan.
Perubahan kepemilikan saham juga menjadi titik penting dalam sejarah proyek ini. Setelah Shell mengundurkan diri, PT Pertamina melalui anak usahanya mengambil alih sebagian besar saham, membawa harapan baru untuk kelangsungan proyek di masa depan.