Liburan romantis seringkali diartikan sebagai momen berharga antara pasangan. Namun, bagi beberapa orang, memberi sedikit ruang sendiri dapat menjadi solusi untuk menciptakan kebahagiaan dalam hubungan. Hal ini dikenal dengan sebutan ‘airport divorce’, sebuah tren baru yang diperkenalkan oleh seorang jurnalis perjalanan asal Inggris, Huw Oliver.
Oliver dan tunangannya memiliki kebiasaan berbeda saat bersiap untuk perjalanan. Ia lebih suka tiba di bandara dengan waktu yang jauh lebih awal dan menikmati fasilitas lounge, sementara pasangannya lebih memilih menghabiskan waktu dengan berbelanja di duty free sambil menikmati koktail.
Alih-alih bertengkar atau merasa tertekan, mereka memutuskan untuk melakukan ‘berpisah’ sementara di bandara. Setelah melewati pemeriksaan keamanan, mereka akan melanjutkan perjalanan masing-masing dan bertemu kembali saat waktu boarding tiba.
“Banyak orang mendefinisikannya sebagai suatu kompromi, tetapi bagi kami, istilah ‘airport divorce’ ini membantu menjaga keseimbangan dalam hubungan kami. Kami tiba di tujuan dengan suasana hati yang lebih baik,” ujar Oliver dalam penjelasannya, menyoroti pentingnya memberi ruang satu sama lain.
Fenomena ‘airport divorce’ ini mendapat respons beragam di dunia maya. Beberapa orang menganggapnya sebagai cara yang cerdas untuk menghindari stres saat bepergian, sementara yang lainnya merasa konsep ini cukup aneh.
Tren Liburan Baru yang Mengubah Cara Berpergian
Kendati mendapat kritik, konsep ini menggarisbawahi fakta bahwa kebahagiaan dalam hubungan tidak selalu berarti harus berada dalam satu tempat sepanjang waktu. Banyak pasangan menemukan bahwa sedikit waktu sendiri dapat melepas ketegangan dan memberikan kesempatan untuk meresapi momen.
Di berbagai belahan dunia, ada sejumlah tren menarik lainnya yang juga mempengaruhi gaya hidup berlibur. Salah satunya terjadi di Beijing, di mana taman rahasia yang pernah dimiliki Kaisar Qianlong di kompleks Kota Terlarang kini sudah dibuka untuk umum setelah seratus tahun tersembunyi.
Pengunjung kini bisa menikmati keindahan taman tersebut yang dipenuhi batu hias, figur simbolik penangkal bencana, serta gerbang tersembunyi yang dahulu hanya bisa diakses oleh kaisar. Taman ini memberikan pengalaman yang kaya akan sejarah serta keindahan alam.
Di Roma, sejarah kian hidup dengan adanya terowongan rahasia yang dahulu digunakan oleh Kaisar untuk mencapai Koloseum, kini dapat dikunjungi oleh wisatawan. London pun tak mau kalah, dengan mengubah kompleks terowongan bawah tanah dari era Perang Dunia II menjadi museum yang mengesankan, pusat seni, serta bar yang terdaftar sebagai yang terdalam di dunia.
Inovasi Unik dalam Dunia Perhotelan
Di Jepang, tren terkini menghadirkan konsep yang menggemaskan lewat program “Sleepover With Your Plushie” yang ditawarkan oleh jaringan hotel Toyoko Inn. Para tamu kini bisa memesan berbagai fasilitas untuk boneka kesayangan mereka, mulai dari tempat tidur, piyama, bantal, hingga selimut mini, dengan biaya tambahan yang sangat terjangkau.
Perwakilan dari Toyoko Inn menyatakan bahwa mereka melihat banyak tamu yang menyusun boneka-boneka mereka di sisi tempat tidur hanya untuk berfoto. Hal ini mendorong hotel untuk menciptakan fasilitas yang lebih nyaman bagi boneka, memastikan pengalaman menginap yang spesial bagi semua anggota keluarga—termasuk boneka.
Di Prancis, perdebatan klasik seputar sebutan kue kembali mencuat. Apakah sebutan yang tepat untuk kue tersebut adalah pain au chocolat atau chocolatine? Penduduk Bordeaux bersikeras dengan penyebutan ‘chocolatine’, sementara daerah lain menyebutnya dengan berbagai nama berbeda, seperti ‘couque au chocolat’ di Ardennes.
Menerima Keberagaman dalam Budaya dan Bentuk Liburan
Tren ‘airport divorce’ hingga berbagai inovasi dalam sektor perhotelan menandai bahwa dunia perjalanan semakin kaya akan keberagaman dan ekspresi personal. Dengan kemajuan teknologi dan pertukaran informasi yang cepat, liburan kini bukan hanya tentang destinasi, tetapi juga tentang pengalaman unik yang mendefinisikan diri kita.
Liburan yang baik adalah ketika kita bisa merasa tenang dan bahagia, baik saat bersama orang terkasih maupun saat menikmati waktu sendiri. Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk mencapai kebahagiaan dalam perjalanan, dan itulah yang membuatnya semakin menarik.
Yang terpenting, adalah menemukan keseimbangan yang tepat antara kebersamaan dan waktu sendiri. Fenomena ini menunjukkan bahwa tidak ada satu cara yang benar atau salah saat menikmati liburan, selama kita menghargai pengalaman dan hubungan yang kita jalin.
















