loading…
Wisudawan terbaik FIP Unesa Ela Dwita Sari berfoto bersama ibu dan ayahnya. Foto/Unesa.
Ela, sapaan akrabnya, merupakan lulusan Program Studi S-1 PGSD dengan capaian IPK nyaris sempurna, yakni 3,93 predikat pujian. Di balik prestasinya, tersimpan perjuangan panjang anak seorang petani yang tak pernah gentar bermimpi besar.
Sejak lulus SMA, mahasiswi angkatan 2021 ini telah meneguhkan tekad untuk kuliah. Bukan hanya dorongan pribadi, semangat itu juga datang dari kedua orang tuanya — sang ayah, Mihartono, yang berprofesi sebagai petani sekaligus penjahit konveksi, serta ibunya, Siti Fatimah, seorang ibu rumah tangga. Bagi keluarga sederhana itu, pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk mengubah masa depan.
“Alhamdulillah saya lolos seleksi beasiswa. Saya ingin membuat orang tua bangga memiliki saya. Saya tidak mau mereka kecewa kalau saya tidak bersungguh-sungguh menjalani kewajiban saya sebagai mahasiswa penerima bantuan pemerintah,” ungkapnya penuh haru, melansir laman Unesa, Rabu (1/10/2025).
Ela Dwita Sari adalah contoh nyata bahwa latar belakang ekonomi tidak menjadi penghalang untuk mencapai impian. Dengan dukungan keluarga dan tekad yang kuat, ia berhasil menembus batasan yang sering kali melekat pada anak-anak dari keluarga sederhana. Kisahnya memancarkan harapan dan inspirasi bagi banyak orang yang memiliki mimpi yang sama.
Pendidikan baginya bukan hanya sekadar akses untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, tetapi juga merupakan jalan untuk mengubah hidup. Dengan prestasi membanggakan ini, Ela berharap kisahnya bisa menginspirasi generasi muda lainnya untuk terus belajar dan berjuang demi cita-cita yang lebih baik.
Kisah Perjuangan Seorang Mahasiswa dari Latar Belakang Sederhana
Kisah Ela bukanlah hal yang unik di tengah masyarakat Indonesia, di mana banyak anak muda menghadapi tantangan serupa. Dukungan dari orang tua serta komitmen untuk belajar menjadi kunci bagi keberhasilan akademis. Mimpi Ela untuk kuliah menjadi nyata bukan hanya lewat kerja keras, tetapi juga lewat dukungan moral dari orang-orang terdekatnya.
Mihartono dan Siti Fatimah, orang tua Ela, selalu menekankan pentingnya pendidikan. Meskipun dalam keadaan terbatas, mereka bekerja keras untuk memfasilitasi pendidikan Ela. Sikap positif dan optimisme orang tua Ela turut berkontribusi dalam membentuk karakter dan motivasi di dalam dirinya.
Sejak kecil, Ela sudah menunjukkan minat yang besar terhadap pendidikan. Dia sering menghabiskan waktu di sekolah lebih lama dari siswa lain untuk mengikuti berbagai kegiatan ekstra. Dengan fasilitas yang terbatas, ia tetap berusaha keras untuk mengembangkan diri, dan itu semua terbayar saat ia berhasil diterima di universitas.
Pendidikan Sebagai Sarana untuk Mencapai Impian yang Lebih Tinggi
Saat masuk universitas, Ela menghadapi tantangan baru, yakni menyesuaikan diri dengan lingkungan akademis yang lebih menuntut. Meskipun ada kalanya merasa cemas, keberanian untuk mengambil tantangan tersebut adalah salah satu faktor yang membuatnya berhasil. Ia bertekad tidak hanya untuk lulus, tetapi juga untuk menjadi yang terbaik di antara rekan-rekannya.
Ela mendaftar berbagai program beasiswa yang tersedia untuk mahasiswa berprestasi. Ini adalah langkah strategis yang diambilnya untuk mendapatkan dukungan finansial, sehingga memberi lebih banyak waktu untuk belajar. Keberhasilannya dalam mendapatkan beasiswa adalah pendorong utama bagi dia untuk terus berjuang.
Empat tahun berlalu, semua usaha dan pengorbanan itu berbuah manis. Dengan IPK 3,93 yang didapatnya, ia berhasil keluar sebagai wisudawan terbaik. Nilai tersebut mencerminkan dedikasi dan kerja keras yang ia tunjukkan selama masa kuliah.
Inspirasi untuk Generasi Muda Lainnya dalam Mencari Pendidikan
Pencapaian Ela Dwita Sari bukan hanya kebanggaan bagi dirinya dan keluarganya, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi mahasiswa lainnya. Kisahnya menegaskan bahwa dengan ketekunan, keyakinan, dan dukungan orang tua, siapapun bisa menggapai impian mereka, apapun latar belakang sosial dan ekonomi mereka. Setiap mahasiswa harus menyadari bahwa kesuksesan bukan hanya ditentukan oleh status, tetapi oleh usaha dan tekad.
Melihat perjalanan Ela, kita bisa menarik pelajaran bahwa pendidikan memiliki kekuatan untuk mengubah kehidupan. Menghadapi tantangan bukanlah alasan untuk menyerah, melainkan menjadi pendorong untuk berusaha lebih keras. Kisahnya menjadi pengingat untuk generasi muda lainnya bahwa pendidikan adalah salah satu senjata terkuat dalam menghadapi masa depan.
Ela berharap agar generasi penerus dapat meneruskan apa yang telah ia mulai. Menginspirasi mereka untuk tidak berhenti bermimpi, dan untuk selalu berharap akan hari-hari yang lebih baik. Ini adalah misi mulia yang lebih penting dari sekedar mendapatkan gelar akademis.
















