Prof. Kamaruddin Amin, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, mengajak Program Pascasarjana PTKIN untuk berinovasi dalam menghasilkan lulusan yang berkualitas. Ini adalah langkah penting bukan hanya dalam dunia akademik, tetapi juga untuk menjadi rujukan utama dalam masyarakat luas.
Dalam konferensi internasional yang diadakan di Yogyakarta, ia menekankan perlunya perguruan tinggi keagamaan Islam untuk menjadi otoritas dalam isu-isu keagamaan dan sosial. Alumni tidak hanya perlu diakui secara kelembagaan, tetapi juga harus menjadi panutan dan sumber informasi di tengah masyarakat.
Kegiatan ini, diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam dan Forum Direktur Pascasarjana PTKIN, mengangkat tema “Religion, Law, and Environmental Sustainability.” Tema ini mencerminkan kebutuhan akan pendekatan yang lebih holistik dalam pendidikan tinggi.
Pendidikan Pascasarjana: Mendorong Inovasi dan Kualitas Alumni
Pendidikan di tingkat pascasarjana memiliki tantangan tersendiri dalam menyiapkan lulusan yang kompeten dan relevan. Prof. Kamaruddin Amin berkomitmen untuk memastikan bahwa lulusan menjadi otoritas dalam bidang ilmu yang mereka geluti.
Dalam diskusinya, ia menekankan perlunya inovasi yang terus-menerus untuk menjawab tantangan zaman. Alumni yang dihasilkan harus mampu menghadapi berbagai dinamika sosial di masyarakat.
Konferensi ini diharapkan dapat menjadi platform untuk berbagi ilmu dan pengalaman. Di sinilah para akademisi dapat berkolaborasi dan mengembangkan pemikiran baru yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Tema Besar: Agama, Hukum, dan Keberlanjutan Lingkungan
Pengarusutamaan isu keberlanjutan lingkungan dalam pendidikan menjadi penting di era saat ini. Prof. Arskal Salim, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, menekankan pentingnya penerapan prinsip etika dan kearifan kolektif dalam respons hukum terhadap tantangan lingkungan.
Setiap aspek pendidikan perlu dipadu dengan kesadaran akan lingkungan. Ini adalah langkah proaktif untuk membentuk karakter lulusan yang bertanggung jawab terhadap keberlanjutan ekosistem.
Konferensi ini berupaya untuk merangsang diskusi tentang bagaimana pendidikan tinggi dapat berkontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan. Di sini, pengetahuan agama dan hukum saling melengkapi dalam mencari solusi.
Peran Konferensi Internasional dalam Pengembangan Keilmuan
Konferensi internasional seperti ini menjadi penting sebagai wadah untuk membangun jejaring. Prof. Sahiron Syamsudin, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, melihat potensi besar dalam sinergi antara akademisi untuk memperkaya khazanah keilmuan.
Dari ribuan profesor yang ada, pemanfaatan pengetahuan mereka menjadi kunci untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Hal ini menciptakan peluang bagi pengembangan penelitian yang lebih berfokus pada isu-isu yang relevan dengan masyarakat.
Kolaborasi antara berbagai disiplin ilmu sangat dibutuhkan. Dengan cara ini, pendidikan tinggi keagamaan dapat memberikan kontribusi lebih besar dalam menciptakan solusi untuk berbagai masalah sosial.
















