Di usia yang seharusnya penuh dengan eksplorasi, banyak generasi Z—yang biasa disebut Gen Z—justru sudah berhadapan dengan istilah “adulting.” Obrolan tentang cicilan, kelelahan akibat kerja, dan perasaan “tua” di angka 20-an semakin marak di media sosial, menciptakan kesan bahwa mereka lebih dewasa dibandingkan dengan generasi sebelumnya.
Rasa transisi menuju dunia orang dewasa seakan datang lebih cepat, membuat banyak dari mereka merasa bahwa masa muda kini lebih singkat. Fenomena ini menunjukkan bagaimana Gen Z menghadapi tantangan dengan cara yang berbeda dan tentunya menarik untuk dibahas lebih dalam.
Psikolog dari sebuah lembaga psikologi menjelaskan bahwa persepsi ini bukanlah hal baru. Generasi sebelumnya juga mengalami kerumitan serupa, meskipun cara mereka mengekspresikannya sangat berbeda dengan yang kita lihat saat ini.
Teknologi dan dampaknya terhadap pola pikir Gen Z
Generasi Z tumbuh dalam era di mana teknologi hadir dengan akses informasi yang sangat cepat. Media sosial menjadi saluran utama bagi mereka untuk mengakses berbagai isu orang dewasa, mulai dari finansial, politik, hingga hubungan interpersonal.
Proses pembelajaran observasional menjadi lebih terlihat karena mereka terus melihat, membandingkan, dan meniru gaya hidup orang dewasa. Hal ini menyebabkan mereka jauh lebih cepat merasa “dewasa” dibanding generasi milenial di masa lalu.
Studi menunjukkan bahwa paparan konten “dewasa” di media sosial berkaitan erat dengan perasaan kematangan yang lebih dirasakan. Ini menggiring mereka kepada realitas kompleks yang sering kali dihadapi oleh orang dewasa.
Faktor otak dan neurokognitif dalam evolusi Gen Z
Secara biologis, otak manusia mengalami perkembangan penuh di usia sekitar 25 tahun, khususnya pada bagian prefrontal cortex yang bertanggung jawab atas perencanaan dan kontrol. Namun, stimulasi kognitif yang dihadapi oleh Gen Z jauh lebih intens dibandingkan dengan generasi sebelumnya.
Oleh karena itu, meskipun secara neurologis proses perkembangan otak berjalan sama, paparan informasi yang masif sering kali membuat mereka tampak lebih cepat matang. Hal ini menggugah kita untuk berpikir ulang tentang bagaimana kita mendefinisikan kedewasaan.
Kontradiksi antara perkembangan biologis dan paparan informasi bisa menciptakan ilusi kedewasaan. Gen Z mungkin merasa lebih matang meskipun otak mereka belum sepenuhnya dewasa.
Bahasa populer dan persepsi tentang tanggung jawab hidup
Perasaan “adulting” hakikatnya bukanlah fenomena baru dalam kehidupan manusia. Sebelum istilah ini muncul, generasi sebelumnya juga menghadapi tantangan tanggung jawab hidup di usia muda. Namun, mereka tidak memiliki istilah gaul untuk menyebutnya.
Gen Z lebih ekspresif dalam mengekspresikan keluhan terkait tanggung jawab, menciptakan narasi yang lebih kuat di media sosial. Ini menunjukkan bahwa mereka sedang berusaha mencari pengakuan dan pemahaman tentang pengalaman yang mereka hadapi.
Akibatnya, rasa “cepat tua” seolah menjadi ilusi yang diciptakan oleh media sosial. Algoritma memperkuat wacana tertentu, membuat kita merasa semakin tidak nyaman dengan kenyataan bahwa kita juga mempunyai tanggung jawab.
Refleksi menyeluruh tentang pengalaman Gen Z dan generasi lainnya
Yang dialami oleh Gen Z saat ini sebenarnya bukanlah hal yang unik. Generasi milenial di awal 2000-an juga merasakan gejolak yang sama ketika memasuki dunia kerja dan tanggung jawab. Namun, perbedaannya adalah akses mereka terhadap media sosial sangat terbatas.
Milenial yang kini berumur 30 hingga 40 tahun sering kali mengingat masa 20-an mereka dengan pandangan penuh kebebasan. Padahal, riset pada masa itu menunjukkan bahwa mereka juga mengalami keresahan yang serupa saat itu.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pengalaman mencapai dewasa mungkin berulang di setiap generasi. Gen Z mungkin terlihat lebih cepat tua, tetapi kenyataannya mereka hanya lebih terlihat karena memiliki ruang untuk berbagi pengalaman tersebut.
















