Melihat anak mengalami kemarahan tentu bisa membuat orang tua merasa tertekan dan frustasi. Perilaku tantrum ini sering kali muncul pada anak-anak, terutama balita dan prasekolah, karena mereka masih berjuang dalam mengungkapkan perasaan dengan tepat.
Kemampuan anak untuk berkomunikasi terbatas, dan sering kali kemarahan mereka diekspresikan melalui teriakan, tangisan, atau perilaku fisik lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa mereka mengalami kesulitan dalam mengekspresikan keinginan dan kebutuhan mereka yang mendesak.
Ketidakmampuan untuk mengontrol emosi ini membuat anak bereaksi dengan cara yang mungkin tidak sesuai, seperti menangis atau bahkan berguling di lantai. Sebagai orang tua, penting untuk mengenali bahwa kemarahan ini adalah proses awal dalam pembelajaran mengelola emosi.
Menurut para ahli, tugas orang tua adalah membantu anak mengarahkan emosi dengan cara yang lebih sesuai. Di bawah ini adalah enam strategi efektif yang dapat digunakan orang tua untuk mengatasi perilaku tantrum anak.
Strategi Pertama: Mengakui dan Menerima Emosi Anak
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengakui perasaan marah anak. Ucapan sederhana seperti, “Ibu melihat kamu sedang marah,” dapat memberikan pengertian dan penerimaan bagi anak.
Menamakan emosi yang dirasakan anak adalah kunci untuk membantu mereka memahami perasaan tersebut. Dengan memberikan contoh penyebab emosi, seperti harus meninggalkan taman bermain, orang tua dapat membantu anak mengenali situasi yang menimbulkan kemarahan.
Penting untuk menyampaikan bahwa marah adalah perasaan yang wajar. Ucapan seperti “Tidak apa-apa merasa marah” akan membantu anak merasa diizinkan untuk mengekspresikan emosinya tanpa takut akan penilaian.
Validasi perasaan anak bisa mengurangi intensitas emosi mereka. Menolak atau merendahkan perasaan anak justru dapat membuat situasi semakin buruk dan memperdalam rasa frustasi mereka.
Strategi Kedua: Mengajarkan Anak Tentang Emosi
Selain mengakui amarah, orang tua juga perlu mengajarkan anak tentang berbagai jenis emosi. Mengajak anak berbicara tentang perasaan yang mereka alami dapat membantu mereka mengenali dan membedakan emosi satu sama lain.
Melalui cerita atau permainan, orang tua dapat mengajari anak bagaimana mengidentifikasi emosi yang berbeda. Misalnya, membedakan antara marah, sedih, dan senang dapat membantu anak untuk lebih terampil dalam berkomunikasi tentang perasaan mereka.
Ketika anak belajar untuk mengenali perasaan mereka, mereka akan lebih mudah untuk menyampaikannya dengan kata-kata. Ini adalah langkah penting dalam perkembangan emosional anak dan dapat mengurangi kemungkinan terjadinya tantrum di masa depan.
Menggunakan buku cerita tentang emosi bisa menjadi metode yang menyenangkan. Buku ini bisa menjadi wadah bagi anak untuk mendiskusikan perasaan mereka dan meresapi pengalaman karakter dalam cerita.
Strategi Ketiga: Memberikan Contoh Tingkah Laku yang Baik
Orang tua adalah contoh utama bagi anak-anak mereka. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk menunjukkan bagaimana mengelola emosi dengan baik. Ketika orang tua menunjukkan sikap tenang meski mengalami stres, anak akan belajar untuk merespons situasi yang menantang dengan cara yang lebih positif.
Di dalam situasi yang sulit, tunjukkan kepada anak bagaimana cara bernafas dalam-dalam atau menghitung sampai sepuluh sebagai cara untuk menenangkan diri. Ini adalah teknik yang dapat mereka gunakan ketika mereka menghadapi emosi yang kuat.
Selalu berbicara tentang dampak dari emosi yang tidak dikelola dengan baik. Membahas konsekuensi dari ledakan emosi dapat membantu anak memahami pentingnya kontrol diri dan strategi pengelolaan emosi yang efektif.
Ketika orang tua berusaha untuk menciptakan lingkungan yang positif, anak akan lebih cenderung meniru tingkah laku tersebut. Ini bukan hanya soal mengelola kemarahan, tapi juga membangun hubungan emosional yang sehat.
Strategi Keempat: Memberikan Ruang untuk Mengatasi Emosi
Memberikan anak ruang untuk merasakan perasaan mereka merupakan hal yang penting. Terkadang, mereka hanya membutuhkan waktu sendiri untuk menenangkan diri dan meresapi emosi yang sedang terjadi.
Orang tua bisa menciptakan area tenang di rumah di mana anak dapat pergi ketika mereka merasa kewalahan. Menggunakan bantal atau mainan untuk bersandar dapat membantu anak merasa lebih nyaman selama waktu tenang tersebut.
Penting untuk tidak memaksakan anak untuk segera berhenti marah. Biarkan mereka tahu bahwa adalah hal yang baik untuk mengalami emosi, dan memberi mereka waktu untuk bertransisi dari kemarahan menuju ketenangan.
Setelah anak merasa lebih stabil, orang tua dapat kembali membahas situasi yang memicu kemarahan. Ini adalah waktu yang baik untuk berbicara tentang bagaimana anak dapat menghadapi kesulitan dengan lebih efektif di masa depan.
















